Kamis, 12 April 2012

Saat Bersamanya

Hujan. Masih terdengar tangisan alam itu di luar. Meski hanya gerimis yang menimpa bumi, tapi tetap saja mampu menciptakan dingin yang menusuk tulang, apalagi angin ikut mendesah.
Seperti halnya alam, gadis cantik itu juga tak henti-hentinya menumpahkan tangis, menguras air mata, seakan angin mengalahkan sang gerimis. Tapi sesungguhnya bukan itu alasan gadis cantik itu menangis. Dia menangis, karena hanya itu yang dapat ia perbuat. Ya, tak ada lagi. Bahkan untuk sekedar untuk menghela nafas saja ia berat.
Kulit yang kuning langsat, wajah yang sangat cantik, rambut hitam panjang yang terurai, ditambah celana jeans dan kaos biru bergambar Angry Birds yang ia kenakan, menambah kesempurnaan saja. Tapi, lihatlah! Matanya bengkak sebesar bola pingpong. Dia terlalu lama menangis, menangisi sesuatu yang telah hilang dari dirinya.
Dia hanya meratap. Berdiri menatap jendela. Menyentuh embun yang dihadirkan gerimis pada kaca jendela.
Ini sudah larut malam. Dan di ruang remang-remang yang hanya disinari lampu tidur.
Akhirnya, gadis itu mundur menjauh dari jendela, lalu berbalik dan mendekati tempat tidurnya. Dia bersimpuh dilantai, menunduk sampai air matanya jatuh ke lantai.
“Harusnya, sekarang kamu ada di sini!” ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Hana (gadis itu) mendongak menelusuri tempat tidurnya, lalu meraih benda yang sama sekali tak asing baginya. Seketika itu memory nya berputar, memory akan masa yang lalu, masa yang indah itu.
*
“Ih kamuuu!” Hana berdecak kesal menampik boneka monyet yang diberikan oleh Karel.
“Kenapa?” tanya Karel tak mengerti.
“Kamu, kalo mau ngasih aku boneka, mikir dulu dong! Lah ini, ngasih aku boneka monyet. Ngga romantis banget sih!” Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis fikir dia bisa jatuh cinta pada pria yang tidak romantis seperti ini.
“Abisan kamu sih, ngatain aku jelek terus! Ya udah aku kasih boneka jelek ini aja, biar tiap hari kamu inget terus sama aku.” Ujarnya “Nah, kalau kamu kangen sama aku, peluk aja boneka ini, pasti dia bakalan panggil aku, dan aku bakalan ada buat kamu” Karel menyerahkan boneka itu.
“Hahaha, pinter juga ya kamu nyari kembaran kamu!” Hana menelusuri wajah boneka itu. “Lucu juga, bagaimana kalo dia memberi namanya ‘jelek’ ha?” katanya mantap.
“Dih, kamu ngehina aku terus” Karel menjulurkan lidahnya.
“Yeay, siapa juga yang ngehina kamu? Kan sekarang yang dapet panggilan jelek itu bukan kamu. Ya kan jelek?” Hana bertanya pada benda mati yang ada di tangannya. Lalu menggerakan tangannya untuk membuat kepala boneka itu mengangguk. “iya” katanya lagi.
Karel hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah gadis nya yang macam orang bodoh, berbicara dengan boneka. Karel tersenyum, lalu mendaratkan tangannya di pucuk kepala Hana, lalu mengacaknya gemas.
*
Hana mengerjap. Menghentikan rekaman kejadian yang tiba-tiba berputar di otaknya. Hana tahu, itu masa lalu. Dan tak akan ada masa lalu yang terulang lagi.
Hana beralih menatapi benda mati yang dipegang nya sejak tadi. Dialah saksi bisu, betapa indahnya masa itu.
Hana menelusuri mata bulat dan berwarna coklat milik boneka itu. Bulat? Coklat? Bukankah itu adalah milik seseorang yang telahg membuatnya begini.
Gadis itu kemudian memeluk sang boneka. Erat sekali. Mungkin kalau boneka itu hidup, dia akan susah untuk bernafas, saking eratnya pelukan Hana. Gadis itu memejamkan mata, kembali membiarkan kristal bening itu jatuh. Dia begitu meresapi pelukannya terhadap benda yang tak bernyawa itu.
Lama sekali gadis itu melakukan nya dalam diam. Dia tersadar, membuka mata dan melepaskan pelukannnya. Dia kembali mempelototi mata sang boneka. Dan dengan suara yang makin bergetar, dia mulai merajuk. “Jelek! Kamu!” Hana menunjuk tepat ke arah muka benda tak berdosa itu. “kenapa? Kenapa sekarang kamu ga bisa panggil Karel seperti biasanya? Kenapa? Lihat! Aku sendiri, tak ada Karel, tak ada, dia pergi!.” Racaunya.
Hana mencengkram tubuh sang boneka lalu mulai meracau lagi. “Jelek, cepat panggil Karel! Dasar bodoh! Kamu tuli ya? Ayo panggil dia! Kalau tidak, mau aku buduh kau?” Seketika itu Hana melempar sang boneka tanpa perasaan. Membuat boneka malang itu tersungkur di sudut ruangan. Mengenaskan!
Terdiam. Apa yang baru saja ia lakukan? Macam orang gila saja. Ya, orang itu membuat Hana gila. Hana mengepalkan tangan, lalu sejurus kemudian menghantam lantai. Aw, pasti sakit sekali. Tapi, tak sebanding dengan sakit hati yang ia rasakan, karena bongkahan pelengkap hatinya, pergi untuk selamanya.
“Aaaaaa...” Hana berteriak. Memecah kesunyian malam. Membuat sang hujan yang sempat terlelap kembali terjaga, lalu turun lagi ke bumi.
Hana bangkit dari duduknya. Berjalan sempoyongan menuju sudut ruangan. Dia berjongkok. Membenahi posisi si ‘jelek’nya yang terbalik. “maaf ya!” ujarnya kemudian bangkit lagi dan berjalan menuju meja panjang di dekat jendela.
Dia membisu. Melihat apa saja benda-benda yang diam manis di atas meja itu. Hana tahu benar, semua benda itu erat kaitannya dengan si pemilik bongkahan hati yang telah pergi itu.
Hana menggerakan tangannya. Mengambil sebuah kotak persegi berwarna hitam. Dia membukanya lalu meraih isinya. Tak begitu berharga sebenarnya, hanya kartu-kartu bergambar yang dibuat oleh nya. Dia teringat, betapa dulu dia paling suka membuat kartu lucu seperti ini, ditemani pemilik bongkahan yang selalu ada di sampingnya. Hana menyimpan kartu-kartu itu di dadanya. Memejamkan mata dan menangis. Ya, kalau saja menangis dapat membuat pemilik bongkahan hati itu kembali, maka dia rela menangis selamanya hingga air mata yang ia punya habis tak tersisa. Kering!
Dan, menangis hanyalah menangis. Tak akan ada yang kembali. Begitu juga Karel. Pemilik bongkahan hati itu pergi, menimbulkan cacat di hati Hana. Ya, bongkahan yang dia bawa terlalu besar, menyiskan bongkahan kecil hatinya berkeping-keping. Berantakan!. Gadis itu tak tahu bagaimana menyusun kembali bongkahan hati itu lagi. Karena, meski nanti bongkahan hati itu tersusun, akan ada bongkahan yang hilang. Bongkahan yang Karel bawa ke peradaban abadi yang takkan kembali.
Maka, dengan sisa tenaganya, gadis itu berusaha bertahan dengan bongkahan hati yang tinggal separuh. Dia membuka mata lalu melempar kartu-kartu lucu dan menggemaskan itu ke udara, hingga kartu-kartu itu terbang dan akhirnya terhempas ke dasar. Berantakan. Sama halnya dengan hatinya. Menyedihkan.
Gadis itu kembali berbalik, mendekati meja kecil di sudut ruangan, lalu bersimpuh di hadapannya. Dia menatapi lekuk kue tart cantik dengan lilin angka 15 di atasnya. Lalu akhirnya tersenyum getir.
Hana meraih si ‘jelek’ yang sedang terduduk di sudut ruangan dekat meja kecil itu, lalu mendudukannya diatas meja mengahadap kue tart. Lalu mengusap lembuah pipi si ‘jelek’.
Hana mengambil sebuah korek lalu menyalakan lilin cantik itu. Kini bukan hanya lampu tidur yang menerangi ruangan itu, tapi juga sang lilin.
“Sebentar lagi ya rel” ujarnya. “oh ya, malam ini aku cantik kan? Lihat, aku pakai celana jeans dan kaos biru bergambar Angry Birds yang kamu suka. Tapi...” Hana menggigit bibir “kaosnya udah kusut, tapi aku ga peduli, karena sekarang sudah ada kamu disini”
Sudah ada. Apa mungkin? Tentu tidak. Pemilik bongkahan itu tak mungkin ada disini, saat ini. Hana hanya meracau. Bicara sendiri pada si jelek, seperti tadi. Tapi kali ini terlihat lebih menyedihkan. Tragis.
Pukul 00:00. Hari berganti. Dan itu tandanya, hari yang Hana tunggu tiba. Hari ulang tahunnya yang ke 15.
“Rel, udah saatnya. Kita nyanyi bareng yuk!” Hana menghela nafas, bertepuk tangan menghasilkan ketukan irama. “Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.” Hana bersenandung dengan suara parau dan di iringi rintikan air mata yang tak pernah surut.
“Sekarang waktunya tiup lilin, tapi sebelum itu, aku mau buat permintaan dulu” Hana menghela nafas, lalu mengangkat tangannya dan mulai bertutur. “Tuhan, di hari ulang tahunku ini, aku hanya minta sesuatu yang sangat kecil, tapi penting bagiku, aku sangat mencintai Karel, aku menyayanginya, aku membutuhkannya, aku ingin dia selalu ada di sampingku. Maka dari itu Tuhan, izinkanlah dia untuk selalu disini, kembalikanlah dia. Dan apabila engkau enggan mengembalikannya, izinkan aku ikut bersamanya.” Lalu Hana meniup lilinnya dengan sangat khusyuk.
“Rel, kamu dengar kan permintaanku barusan? Aku mau  kamu selalu ada di sini. Jangan pergi ya. Kalau kamu pergi, ajak aku juga”
Hana meraih pisau, memotong kue dengan sangat fasih, lalu meletakan potongan kue diatas piring. “potongan pertama ini, buat kamu” hana meletakan piring berisi kue di hadapan benda mati yang ia ajak bicara sedari tadi. Yang ia kira karel.
“Ayo makan rel!” sementara si lawan bicara, hanya bisa terdiam. Tentu. Karena memang dia tak bisa melakukan apa-apa. “Kok kamu ga makan sih? Kamu marah ya sama aku?” kata Hana meraih si ‘jelek’, lalu menatapinya penuh harap. “Maaf ya rel, jangan marah. Aku sayang sama kamu!” Hana lalu memeluk boneka itu.
Sakit. Itu yang saat ini Hana rasa. Kehilangan bongkahan hati yang tak akan pernah kembali. Dia lemah hanya dengan separuh ahti. Menara pertahanannya runtuh tanpa tiang. Hidupnya hancur. Tuhan, bantu dia!
Gadis itu masih memeluk benda yang ia harap berubah menjadi sang pemilik bongkahan hati. Tapi nyatanya, berapa lama pun, dia memeluknya, dia tak kan pernah berubah. Gadis itu akhirnya melepas sang boneka dan beralih menggigiti kepala sang boneka. Kasihan. Bukan. Bukan bonekanya, tapi Hana. Gadis itu tak ingin sendirian. Gadis itu ingin dia kembali.
Pelampiasannya berhenti, sekarang Hana malah memeluk lututnya sendiri. Menangis makin deras. Menggigit bibir makin kencang. Dan akhirnya tergulai tak berdaya.
Dengan sisa tenaganya, dia mengambil secarik kertas, potongan fakta pahit yang harus ia terima. “Seorang siswa SMP di temukan tak bernyawa di depan rumahnya. Di duga dia adalah korban perampokan. Dan orangtua mereka sedang tidak ada di rumah.” Betapa hancurnya hati Hana mengetahui hal itu. Karena siswa SMP yang dimaksud adalah Karel. Sang pemilih bongkahan hati itu pergi, satu hari sebelum ulang tahunnya. Dia pergi membawa bongkahan hati, yang tak kan mungkin kembali lagi.
Kini, Hana hanya bisa tergolek lemas. Menghela nafas-nafas terakhir. Sambil menggenggam secarik koran tadi. Menunggu malaikat itu datang menjemput ke keabadian.

Dan, pada akhirnya Hana tak sanggup bertahan hanya dengan separuh hati. Maka Tuhan mengabulkan permintaannya agar ikut bersama Karel ke alam yang berbeda. Hana menghembuskan nafas terakhir. Lalu genggaman tangannya pun terbuka. Membiarkan secarik koran itu ikut tergolek bersamanya. Hana pergi, menyusul Karel, untuk menyempurnakan kembali bongkahan hati yang telah ia curi.


Quetos : Kehilangan, sesuatu yang menyakitkan, tapi berusahalah agar sakit itu hilang. Dan yakinlah, dengan cara-Nya sendiri Tuhan akan menyembuhkan sakit itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar