Kamis, 12 April 2012
Curcol
Saya udah 2 tahun setengah jadi C~LUVer's tapi belum pernah ketemu CAKKA :"( #sadSaya kadang iri sama C~LUVer's yang bisa ketemu CAKKA, bisa foto bareng CAKKA, bisa minta tandatangan CAKKA.Arrrrrrrgh saya kapan?Tapi, alhamdulillah yah ada 1 kesempatan buat ketemu CAKKA. kesempatan besar banget! Tanggal 30 Juni nanti, akan ada MnG CAKKA di Bekasi, dan kebetulan itu pas libur sekolah. Juga tempat nya deket sama rumah om. ya allah makasih bangeeet :"D
Saat Bersamanya
Hujan. Masih terdengar tangisan alam itu di luar. Meski hanya
gerimis yang menimpa bumi, tapi tetap saja mampu menciptakan dingin yang
menusuk tulang, apalagi angin ikut mendesah.
Seperti halnya alam, gadis cantik itu juga tak henti-hentinya
menumpahkan tangis, menguras air mata, seakan angin mengalahkan sang gerimis.
Tapi sesungguhnya bukan itu alasan gadis cantik itu menangis. Dia menangis,
karena hanya itu yang dapat ia perbuat. Ya, tak ada lagi. Bahkan untuk sekedar
untuk menghela nafas saja ia berat.
Kulit yang kuning langsat, wajah yang sangat cantik, rambut
hitam panjang yang terurai, ditambah celana jeans dan kaos biru bergambar Angry
Birds yang ia kenakan, menambah kesempurnaan saja. Tapi, lihatlah! Matanya
bengkak sebesar bola pingpong. Dia terlalu lama menangis, menangisi sesuatu
yang telah hilang dari dirinya.
Dia hanya meratap. Berdiri menatap jendela. Menyentuh embun
yang dihadirkan gerimis pada kaca jendela.
Ini sudah larut malam. Dan di ruang remang-remang yang hanya disinari lampu tidur.
Ini sudah larut malam. Dan di ruang remang-remang yang hanya disinari lampu tidur.
Akhirnya, gadis itu mundur menjauh dari jendela, lalu berbalik
dan mendekati tempat tidurnya. Dia bersimpuh dilantai, menunduk sampai air
matanya jatuh ke lantai.
“Harusnya, sekarang kamu ada di sini!” ucapnya pelan dengan suara bergetar.
“Harusnya, sekarang kamu ada di sini!” ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Hana (gadis itu) mendongak menelusuri tempat tidurnya, lalu
meraih benda yang sama sekali tak asing baginya. Seketika itu memory nya
berputar, memory akan masa yang lalu, masa yang indah itu.
*
“Ih kamuuu!” Hana berdecak kesal menampik boneka monyet yang diberikan oleh Karel.
“Kenapa?” tanya Karel tak mengerti.
“Kamu, kalo mau ngasih aku boneka, mikir dulu dong! Lah ini, ngasih aku boneka monyet. Ngga romantis banget sih!” Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis fikir dia bisa jatuh cinta pada pria yang tidak romantis seperti ini.
“Abisan kamu sih, ngatain aku jelek terus! Ya udah aku kasih boneka jelek ini aja, biar tiap hari kamu inget terus sama aku.” Ujarnya “Nah, kalau kamu kangen sama aku, peluk aja boneka ini, pasti dia bakalan panggil aku, dan aku bakalan ada buat kamu” Karel menyerahkan boneka itu.
“Hahaha, pinter juga ya kamu nyari kembaran kamu!” Hana menelusuri wajah boneka itu. “Lucu juga, bagaimana kalo dia memberi namanya ‘jelek’ ha?” katanya mantap.
“Dih, kamu ngehina aku terus” Karel menjulurkan lidahnya.
“Yeay, siapa juga yang ngehina kamu? Kan sekarang yang dapet panggilan jelek itu bukan kamu. Ya kan jelek?” Hana bertanya pada benda mati yang ada di tangannya. Lalu menggerakan tangannya untuk membuat kepala boneka itu mengangguk. “iya” katanya lagi.
Karel hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah gadis nya yang macam orang bodoh, berbicara dengan boneka. Karel tersenyum, lalu mendaratkan tangannya di pucuk kepala Hana, lalu mengacaknya gemas.
*
“Ih kamuuu!” Hana berdecak kesal menampik boneka monyet yang diberikan oleh Karel.
“Kenapa?” tanya Karel tak mengerti.
“Kamu, kalo mau ngasih aku boneka, mikir dulu dong! Lah ini, ngasih aku boneka monyet. Ngga romantis banget sih!” Hana menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis fikir dia bisa jatuh cinta pada pria yang tidak romantis seperti ini.
“Abisan kamu sih, ngatain aku jelek terus! Ya udah aku kasih boneka jelek ini aja, biar tiap hari kamu inget terus sama aku.” Ujarnya “Nah, kalau kamu kangen sama aku, peluk aja boneka ini, pasti dia bakalan panggil aku, dan aku bakalan ada buat kamu” Karel menyerahkan boneka itu.
“Hahaha, pinter juga ya kamu nyari kembaran kamu!” Hana menelusuri wajah boneka itu. “Lucu juga, bagaimana kalo dia memberi namanya ‘jelek’ ha?” katanya mantap.
“Dih, kamu ngehina aku terus” Karel menjulurkan lidahnya.
“Yeay, siapa juga yang ngehina kamu? Kan sekarang yang dapet panggilan jelek itu bukan kamu. Ya kan jelek?” Hana bertanya pada benda mati yang ada di tangannya. Lalu menggerakan tangannya untuk membuat kepala boneka itu mengangguk. “iya” katanya lagi.
Karel hanya menggelengkan kepala. Melihat tingkah gadis nya yang macam orang bodoh, berbicara dengan boneka. Karel tersenyum, lalu mendaratkan tangannya di pucuk kepala Hana, lalu mengacaknya gemas.
*
Hana mengerjap. Menghentikan rekaman kejadian yang tiba-tiba
berputar di otaknya. Hana tahu, itu masa lalu. Dan tak akan ada masa lalu yang
terulang lagi.
Hana beralih menatapi benda mati yang dipegang nya sejak tadi.
Dialah saksi bisu, betapa indahnya masa itu.
Hana menelusuri mata bulat dan berwarna coklat milik boneka
itu. Bulat? Coklat? Bukankah itu adalah milik seseorang yang telahg membuatnya
begini.
Gadis itu kemudian memeluk sang boneka. Erat sekali. Mungkin
kalau boneka itu hidup, dia akan susah untuk bernafas, saking eratnya pelukan
Hana. Gadis itu memejamkan mata, kembali membiarkan kristal bening itu jatuh.
Dia begitu meresapi pelukannya terhadap benda yang tak bernyawa itu.
Lama sekali gadis itu melakukan nya dalam diam. Dia tersadar,
membuka mata dan melepaskan pelukannnya. Dia kembali mempelototi mata sang
boneka. Dan dengan suara yang makin bergetar, dia mulai merajuk. “Jelek! Kamu!”
Hana menunjuk tepat ke arah muka benda tak berdosa itu. “kenapa? Kenapa
sekarang kamu ga bisa panggil Karel seperti biasanya? Kenapa? Lihat! Aku
sendiri, tak ada Karel, tak ada, dia pergi!.” Racaunya.
Hana mencengkram tubuh sang boneka lalu mulai meracau lagi.
“Jelek, cepat panggil Karel! Dasar bodoh! Kamu tuli ya? Ayo panggil dia! Kalau
tidak, mau aku buduh kau?” Seketika itu Hana melempar sang boneka tanpa
perasaan. Membuat boneka malang itu tersungkur di sudut ruangan. Mengenaskan!
Terdiam. Apa yang baru saja ia lakukan? Macam orang gila saja.
Ya, orang itu membuat Hana gila. Hana mengepalkan tangan, lalu sejurus kemudian
menghantam lantai. Aw, pasti sakit sekali. Tapi, tak sebanding dengan sakit
hati yang ia rasakan, karena bongkahan pelengkap hatinya, pergi untuk
selamanya.
“Aaaaaa...” Hana berteriak. Memecah kesunyian malam. Membuat
sang hujan yang sempat terlelap kembali terjaga, lalu turun lagi ke bumi.
Hana bangkit dari duduknya. Berjalan sempoyongan menuju sudut
ruangan. Dia berjongkok. Membenahi posisi si ‘jelek’nya yang terbalik. “maaf
ya!” ujarnya kemudian bangkit lagi dan berjalan menuju meja panjang di dekat
jendela.
Dia membisu. Melihat apa saja benda-benda yang diam manis di
atas meja itu. Hana tahu benar, semua benda itu erat kaitannya dengan si
pemilik bongkahan hati yang telah pergi itu.
Hana menggerakan tangannya. Mengambil sebuah kotak persegi
berwarna hitam. Dia membukanya lalu meraih isinya. Tak begitu berharga
sebenarnya, hanya kartu-kartu bergambar yang dibuat oleh nya. Dia teringat,
betapa dulu dia paling suka membuat kartu lucu seperti ini, ditemani pemilik
bongkahan yang selalu ada di sampingnya. Hana menyimpan kartu-kartu itu di
dadanya. Memejamkan mata dan menangis. Ya, kalau saja menangis dapat membuat
pemilik bongkahan hati itu kembali, maka dia rela menangis selamanya hingga air
mata yang ia punya habis tak tersisa. Kering!
Dan, menangis hanyalah menangis. Tak akan ada yang kembali.
Begitu juga Karel. Pemilik bongkahan hati itu pergi, menimbulkan cacat di hati
Hana. Ya, bongkahan yang dia bawa terlalu besar, menyiskan bongkahan kecil
hatinya berkeping-keping. Berantakan!. Gadis itu tak tahu bagaimana menyusun
kembali bongkahan hati itu lagi. Karena, meski nanti bongkahan hati itu
tersusun, akan ada bongkahan yang hilang. Bongkahan yang Karel bawa ke
peradaban abadi yang takkan kembali.
Maka, dengan sisa tenaganya, gadis itu berusaha bertahan
dengan bongkahan hati yang tinggal separuh. Dia membuka mata lalu melempar
kartu-kartu lucu dan menggemaskan itu ke udara, hingga kartu-kartu itu terbang
dan akhirnya terhempas ke dasar. Berantakan. Sama halnya dengan hatinya.
Menyedihkan.
Gadis itu kembali berbalik, mendekati meja kecil di sudut
ruangan, lalu bersimpuh di hadapannya. Dia menatapi lekuk kue tart cantik
dengan lilin angka 15 di atasnya. Lalu akhirnya tersenyum getir.
Hana meraih si ‘jelek’ yang sedang terduduk di sudut ruangan
dekat meja kecil itu, lalu mendudukannya diatas meja mengahadap kue tart. Lalu
mengusap lembuah pipi si ‘jelek’.
Hana mengambil sebuah korek lalu menyalakan lilin cantik itu.
Kini bukan hanya lampu tidur yang menerangi ruangan itu, tapi juga sang lilin.
“Sebentar lagi ya rel” ujarnya. “oh ya, malam ini aku cantik
kan? Lihat, aku pakai celana jeans dan kaos biru bergambar Angry Birds yang
kamu suka. Tapi...” Hana menggigit bibir “kaosnya udah kusut, tapi aku ga
peduli, karena sekarang sudah ada kamu disini”
Sudah ada. Apa mungkin? Tentu tidak. Pemilik bongkahan itu tak
mungkin ada disini, saat ini. Hana hanya meracau. Bicara sendiri pada si jelek,
seperti tadi. Tapi kali ini terlihat lebih menyedihkan. Tragis.
Pukul 00:00. Hari berganti. Dan itu tandanya, hari yang Hana
tunggu tiba. Hari ulang tahunnya yang ke 15.
“Rel, udah saatnya. Kita nyanyi bareng yuk!” Hana menghela
nafas, bertepuk tangan menghasilkan ketukan irama. “Happy birthday to you,
happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.”
Hana bersenandung dengan suara parau dan di iringi rintikan air mata yang tak
pernah surut.
“Sekarang waktunya tiup lilin, tapi sebelum itu, aku mau buat
permintaan dulu” Hana menghela nafas, lalu mengangkat tangannya dan mulai
bertutur. “Tuhan, di hari ulang tahunku ini, aku hanya minta sesuatu yang
sangat kecil, tapi penting bagiku, aku sangat mencintai Karel, aku
menyayanginya, aku membutuhkannya, aku ingin dia selalu ada di sampingku. Maka
dari itu Tuhan, izinkanlah dia untuk selalu disini, kembalikanlah dia. Dan
apabila engkau enggan mengembalikannya, izinkan aku ikut bersamanya.” Lalu Hana
meniup lilinnya dengan sangat khusyuk.
“Rel, kamu dengar kan permintaanku barusan? Aku mau kamu selalu ada di sini. Jangan pergi ya.
Kalau kamu pergi, ajak aku juga”
Hana meraih pisau, memotong kue dengan sangat fasih, lalu
meletakan potongan kue diatas piring. “potongan pertama ini, buat kamu” hana
meletakan piring berisi kue di hadapan benda mati yang ia ajak bicara sedari
tadi. Yang ia kira karel.
“Ayo makan rel!” sementara si lawan bicara, hanya bisa
terdiam. Tentu. Karena memang dia tak bisa melakukan apa-apa. “Kok kamu ga
makan sih? Kamu marah ya sama aku?” kata Hana meraih si ‘jelek’, lalu
menatapinya penuh harap. “Maaf ya rel, jangan marah. Aku sayang sama kamu!”
Hana lalu memeluk boneka itu.
Sakit. Itu yang saat ini Hana rasa. Kehilangan bongkahan hati
yang tak akan pernah kembali. Dia lemah hanya dengan separuh ahti. Menara
pertahanannya runtuh tanpa tiang. Hidupnya hancur. Tuhan, bantu dia!
Gadis itu masih memeluk benda yang ia harap berubah menjadi
sang pemilik bongkahan hati. Tapi nyatanya, berapa lama pun, dia memeluknya,
dia tak kan pernah berubah. Gadis itu akhirnya melepas sang boneka dan beralih
menggigiti kepala sang boneka. Kasihan. Bukan. Bukan bonekanya, tapi Hana.
Gadis itu tak ingin sendirian. Gadis itu ingin dia kembali.
Pelampiasannya berhenti, sekarang Hana malah memeluk lututnya
sendiri. Menangis makin deras. Menggigit bibir makin kencang. Dan akhirnya
tergulai tak berdaya.
Dengan sisa tenaganya, dia mengambil secarik kertas, potongan
fakta pahit yang harus ia terima. “Seorang siswa SMP di temukan tak bernyawa di
depan rumahnya. Di duga dia adalah korban perampokan. Dan orangtua mereka
sedang tidak ada di rumah.” Betapa hancurnya hati Hana mengetahui hal itu.
Karena siswa SMP yang dimaksud adalah Karel. Sang pemilih bongkahan hati itu
pergi, satu hari sebelum ulang tahunnya. Dia pergi membawa bongkahan hati, yang
tak kan mungkin kembali lagi.
Kini, Hana hanya bisa tergolek lemas. Menghela nafas-nafas
terakhir. Sambil menggenggam secarik koran tadi. Menunggu malaikat itu datang
menjemput ke keabadian.
Dan, pada akhirnya Hana tak sanggup bertahan hanya dengan
separuh hati. Maka Tuhan mengabulkan permintaannya agar ikut bersama Karel ke
alam yang berbeda. Hana menghembuskan nafas terakhir. Lalu genggaman tangannya
pun terbuka. Membiarkan secarik koran itu ikut tergolek bersamanya. Hana pergi,
menyusul Karel, untuk menyempurnakan kembali bongkahan hati yang telah ia curi.
Quetos : Kehilangan, sesuatu yang menyakitkan, tapi berusahalah agar sakit itu hilang. Dan yakinlah, dengan cara-Nya sendiri Tuhan akan menyembuhkan sakit itu.
Quetos : Kehilangan, sesuatu yang menyakitkan, tapi berusahalah agar sakit itu hilang. Dan yakinlah, dengan cara-Nya sendiri Tuhan akan menyembuhkan sakit itu.
Kamis, 05 April 2012
You're So Amazing Just The Way You're
Sore itu Ify duduk didepan rumah, ketika seseorang
berjalan didepan rumahnya, lalu Ify berdiri dan memanggilnya. "yo..rioo!" . "eh ify,
lagi apaan?" . "biasa, duduk2 aja!" . "boleh dong
ikutan?" goda rio . "tentu, silahkan masuk" kata ify hormat.
"kayak tukang ngamen aja bawa gitar" goda ify. "emangnya gak
boleh ya?" . "hehehe ngga kok, e..tadi rio mau kerumah depan ya?"
. "kok kamu tau?" ify hanya tersenyum. "rio sering ya kerumah
depan?” tanya ify lagi. "memangnya kenapa fy?" . "anu..ify
sering liat kamu nyanyi malem2 dirumah depan itu tiap malam” kata ify pelan
sambil menunduk. “iya fy, rio memang hampir tiap malam dirumah itu.” Kata rio
menjelaska. “apakah..apakah ditempat kuliahmu tidak suka diberi tugas?” .
“jelas dikasih dong fy” . “lantas, suka kamu kerjakan?” tanya ify. Mendengar
pertanyaan itu rio hanya tersenyum, lalu ia berusaha menjelaskan pada ify. “fy,
sekali-kali sih suka dikerjain” “oh ya kenapa ify tanya itu?” lanjut rio. Ify
hanya diam, ia tidak cepat2 menjawab. “yo, maaf kalo ify telah lancang padamu
#aku padamu rioo! ABAIKAN#” kata ify pelan. “fy..fy, rio kira tidak lancang,
tapi sekarang rio ingin tahu apa pendapat ify tentang rio?” tanya rio
penasaran. Ify hanya mendesah, kemudian ia mencoba untuk menjawabnya. “yo..ify
bertanya begitu karna ify suka lihat, kalau tiap malam, rio suka nyanyi aja
dirumah depan, apa tugasnya tidak terbengkalai?” tanya ify. Rio tidak cepat2
menjawab, tapi malah menunduk. “yo..apakah orang tuamu tidak pernah marah kalo
setiap malam kamu keluar?” . “fy, ya...akukan selalu pamit!” bantah rio. Ify
hanya tersenyum. “tapi yo, kalo ify jadi mama rio, ify jewer tuh kuping! Habis...kesel
sih lihat anak keluar rumah hampir tiap malam!” kata ify sambil tersenyum.
Mendengar kata2 ify, rio jadi tertawa. “wah, untung ya ify bukan mama rio!”
kata rio. Mereka pun tertawa bersamaan... “oh
ya...yo, rio suka bikin kelompok diskusi?” . “tidak fy! Kalo ify?” . “dulu sih
punya, tapi karna pindah kesini jadi gak punya!” . “kalo begitu, kita bikin aja
ya fy!” . “maksudmu?” . “kita diskusi aja berdua!” . “boleh, tapi ify pikir
alangkah baiknya kalo ditambah 1 atau 2 orang lagi, soalnya kalo berdua kurang
seru!” protes ify. “kungfu apa pake seru segala?” gosa rio. Ify hanya
tersenyum. “yo...kalo rio sudah bersedia, besok kita mulai, tempatnya di sini
aja ya?” . “loh? giliran dong!” bantah rio. “lantas, dimana lagi yo?” . “ya
dirumah rio lah” . “oh ya..rumah rio disebelah mana sih?” . “ya ampun...! sudah
3 bulan kenal, baru tanya rumah sekarang, gak pernah muter komplek ya?” tanya
ro. “belum keputer semua yo...habis, malessssss!” . “makan ngga males kan?”
tanya rio cepat. “sialan kamu!” bentak ify sedikit manja. Tapi, ngga dibuat2
loh manajanya! Ia manja alami! . “wah..kalo lihat kamu marah, serem juga ya”
goda rio. Karena digoda teruss, ify juga jadi ngomong seenaknya. “eh, bawa
gitar tapi yang bunyinya kok mulut ya?” . “ngebalas nih?” tanya rio. “nggak!
Cuman protes” bantah ify. Ketika keduanya saling berdiskusi, ify mendengar
panggilan dari dalam. “fy..ify” . “ya maa!” jawab ify dari luar. Kemudian
neneknya menghampiri. “ify, sudah hampir magrib , cepet ambil wudhu sana!” .
“iya mih, sebentar aja” teriak ify. “yo, sembahyang disini?”. “ah ngga, dirumah
aja fy!” “oh ya fy, rio pulang dulu.” “bu, saya pulang dulu” kata rio hormat
pada neneknya ify. Setelah rio pergi, kemudian ify masuk kedalam untuk
mengambil air wudhu. Keesokan
harinya seperti biasa, rio menunggu ify di tempat tunggu bis kota. Karena,
pertama kali mereka bertemu ditempat itu. Akhirnya rio suka menunggu ify disana. tapi, saat itu rio tidak sendiri, ia
ditemani seorang teman perempuan. “yo, mana orangnya? Kok lama amat sih?” .
“tenang dong tenang!” . “gerah nih!” . “namanya aja shillat, tapi orangnya
gerah”. “nama gue shilla odong!! Diem ah kamu yo, bikin pusing aja!” . “eh
shill, tuh orangnya!” kata rio sambil menunjuk seseorang. “yang mana
sih?” . “buka lebar2 matanya dong! Nah itu dia menuju kearah kita!” “siang rio!” sapa gadis yang baru
datang itu. “siang juga ify” balas rio. “oh ya fy, kenalkan ini teman kita
shilla, dia bermaksud ingin bergabung dengan kita dalam kelompok diskusi” jelas
rio. “oh, alangkah senangnya!” komentar ify dengan ramah. “oh..ya, kenalkan
saya ify” . “hanya ify?” tanya shilla. ‘kepanjangannya sih Allysa Saufika
Umari” sambung ify. “loh, kok jauh ya fy? Dari Allysa Saufika Umari jadi Ify?”
tanya shilla dengan penuh persahabatan. “tau tuh...salah denger tadinya barangkali”
komentar ify sambil tersenyum. “ngomong aja kamu! Ngga kenalkan namamu toh?”
potong rio. “eh iya, hampir lupa, nama saya Ashilla Zahrantiara. Ify boleh
manggil Shilla aja” kata shilla. “aduhh! Bagus betul tuh nama!” komentar ify.
“siapa dulu, papi kita siih!” kata shilla bangga. “jangan sombong lu shill!
Payah lu!” potong rio. “eh, jadi orang itu jangan suka motong pembicaraan yang
lain dong!” protes shilla. Sedangkan ify hanya tersenyum. “Oh..ya fy, sekarang diskusi pertama
dibuka diluar rumah, tapi berkisar pada obrolan dulu, bagaimana setuju?” tanya
rio. Ify hanya tersenyum sambil mengangguk. kemudian
3 serangkai itu pergi menuju rumah makan kecil, kemudian rio memesan 3 minuman
(3 gelas minuman/sirop). kemudian
shilla membuka pembicaraannya. “oh
ya fy, bagaimana apakah diterima atau tidak jadi group kalian?” . “dengan
senang hati shilla sya menerima kamu sebagi sahabat dekatku!” kata ify dengan
ramah. “aduh, seneng banget, makasih ya fy juga kamu yo. Kalian adalah pasangan
yang ideal!” goda shilla. “ih shilla ada2 aja, padahal anatara aku dan rio kan
biasa2 saja” bantah ify. “eh, yo..denger ngga kata ify? Jadi kedudukan mu itu
belum pasti! Padahal kamu demam berat!” goda shilla sambil tertawa. “jadi
status kalian ini apa sih?” tanya shilla. “status apanya?” tanya ify.
“ya..hubungan kalian” sambung shilla. “maksudmu?” tanya rio. “maksudku begini..
kalian tidak baik kumpul kebo. Sebaiknya kalian ini diikat dalam suatu ikatan
atau hubungan, supaya antara yang satu dapat saling menasehati dengan bebas”
jelas shilla. “aku belum mengerti dan siapa sih yang kumpul kebo itu?” tanya
ify penasaran. “begina ify, juga kamu rio. Memang kata ‘kumpul kebo itu tidak
pantas bagi kalian, karena diantara kalian tidak ada hubungan yang negative,
tapi aku sarankan alangkah baiknya, daripada kalian sebagi sahabat, lebih baik
jadi sahabat istimewa saja, tapi maaf loh.. ify dan juga kamu yo” kata shilla..
“jadi, maksudmu lebih baik aku jadi pacar ify?” tanya rio. “begitulah!” kata
shilla sambil tersenyum. Sedangkan ify wajahnya langsung memerah, ia menunduk,
dan jadi salah tingkah. “terus terang saja fy, aku sangat berterima kasih
sekali padamu, karena selama beberapa bulan ini kamu selalu bersama rio,
sekarang watak rio jadi berangsur-angsur kurang, maksudku watak buruknya.
Sebenarnya waktu SMA kami bersahabat dengan rio, tapi karena rio agak nakal,
persahabatan kami mulai pecah. Tapi beberapa bulan ini saya melihat perubahan
pada diri rio, lalu aku meninjaunya, ternyata itu semua dikarenakan kamu.
Walaupun rio tak bicara padaku, tapi shilla dapat membawa rautnya. Karena rio
sudah berubah, waktu kemarin ia menawari jadi groupnya, tidak pikir panjang,
langsung saja aku sanggupi.” Kata shilla panjang lebar. “jadi sekali lagi
shilla minta maaf ya fy!” pinta olga. “iya engga apa2 kok shill.” Seminggu sudah kejadian itu
berlangsung dan diskusi sudah mulai dilakukan. Suatu malam, ketika ify
sekeluaraga sedang berkumpul diruang tamu, neneknya mulai menyangkut-nyangkut
soal kuliah ify sampai hubungan ify dengan teman2nya. “fy...kelihatannya rio itu sekarang
jadi anak baik ya, syukur saja mama gembira” . “oh iya ma, memangnya rio itu
dulunya anak nakala ya?” tanya ify. “dulunya sih iya, ia pernah mabok dan ia
suka main dirumah depan, padahal orang2 dirumah depan itu sifatnya pada jelek.
Oh ya.. sekrang apakah rio masih suka kesana?” . “kelihatannya sekrang ngga,
mama juga mungkin melihatnya sekarang lebih sering kerumah ini untuk
berdiskusi, malah sering sembahyaang berjamaah dengan kitya kan?” . “iya, tapi
fy, kamu harus jaga diri supaya kalo suatu hari penyakitnya rio kambuh lagi, dy
bisa2 ngajak kamu lohh...” saran neneknya. “mami ini pikirannya kotor betul!”
komentar om nya ify. “eh ru, mami itu bukan bicara kotor, tapi mami hanya
memberi peringatan , siapa sih yang ngga khawatir sama cucunya sendiri?” .
“heru tau mi, tapi coba mami berfikir secara orangtua lah, karena saya lihat
rio itu sekarang sudah menjadi anak baik” saran heru. “sudah.. sudah kok jadi
membicarakan anak oranglain? Tapi memang ibumu itu ada baiknya menasehati cucunya,
tapi ada buruknya juga terlalu dibarengi emosinya. Dan karena kita telah
membicarakan anak itu, sekarang kita berdoa untuknya supaya ia menjadi baik,
dan menjadi anak sholeh” kata kakeknya ify dnegan bijaksana. Malam itu udaranya sangat panas sekali,
sehingga ify tidak bisa tidur, akhirnya ia jadi melamun dengan mengambil posisi
terlentang tangan dilipat disimpan dibawah kepala, dan pandangan mata tertuju
pada langit2 kamar, dan yang ada dipikirannya adalah rio. “memang dulunya rio
itu anak nakal kata shilla nakalnya itu waktu rio duduk di kelas 2 SMA sampai
sekarang, tapi katanya lagi, rio akhir2 bulan ini ia berubah menjadi baik, dn
itu katanya dikarenakan aku? Tapi, apakah betul ya? Shilla bilang aku adalah
pasangan serasinya, dan anehnya lagi, aku juga tertarik padanya, dan sepertinya
aku ingin mengembalikan rio menjadi baik, dan tante resa bilang, orangtuanya
itu ibunya dosen, ayahnya bekerja dikedutaan besar, tapi nkenapa mereka sampai
kalah dengan seorang anak? Apakah rio itu sudah rusak sekali? Oh..tuhan, tapi
aku tidak melihat kenakalan diraut wajahnya, malah kalo bicara, ia selalu
lembut dan sopan, apakah itu hanya dibuat2 untuk menutupi keadaan dirinya?
Aku..aku bukannya bertambnah benci padanya, tapi malah sayang.. dan bagaimana
sikap yang lain kalo aku jadi pendamping rio? Tapi apa peduli mereka? Yang
penting aku baik dan akan selalu mengajak rio berbuat baik! Tapi apakah aku
dapat mengatasi sikap rio kalo suatu hari penyakitnya kambuh lagi? Oh....tuhan,
tunjukanlah jalan yang llurus dan benar buat rio” setelah itu ify tertidur
dengan pulasnya.Keinginan shilla itu memang terkabul, ify dan rio sekarang
menjadi pasangan yang ideal, mereka sudah berpacaran selama 1 bulan. Dan
keadaan rio bertambah baik, sekarang dia tidak suka keluar rumah tiap malam.
Paling2 kalo ada perlu dan kalo mau apel sama ify, baru dia keluar. Dan
sekarang rio tidak suka main di depan rumah ify lagi, malah sekarang hampir
tiap hari jum’at rio tidak pernah absen, pokoknya sekarang rio jadi rajin
sembahyang dan mengerjakan ibadah lainnya. Sekarang mulai banyak para tetangga
yang menyukainya, mlah sekarang tetangga komplek perempuan yang sebaya dengan
rio jadi pada mendekatinya, tapi sayaaaaaaaaaaaaang rio kan sudah pacaran sama
ify :D memang kalo dilihat
sekarang, ify sangat beruntung sekali bisa pacaran sama rio, karena rio itu
cowok kece, hitam manis, gagah dan suka beribadah juga tidak sombong..Hari ini
tiba giliran diskusi dirumah rio, kedatangan ify dan shilla disambut hangat
oleh orangtua dan kakaknya rio. Karena mereka diberitahu shilla bahwa perubahan
pada diri rio disebabkan ify . pada waktu itu, sebelum diskusi dimulai, shilla
dan ify beserta rio disuruh makan bersama dengan keluarganya rio. “oh ya ify,
makan yang banyak ya, empalnya dicoba, sengaja tante buat, buat ify dan papnya
rio, soalnya ini kesenangan papanya rio dan kehormatan untukmu” kata mama rio
dengan ramah. “iya, terimakasih tante” jawab ify pelan. “tante, kalo begitu,
shilla dan yang lainnya tidak boleh makan empal itu?” tanya shilla. “oh,
tidaaak shilla, semua boleh coba, tapi itu dibuat khusus untuk papanya rio dan
ify.” Jelas mamanya rio. “kalo begitu asik dong! Itu namanya adil tante!” gurau
shilla. “anak tante wiwid ini memang pinter ngomong!” komentar papanya rio,
semua jadi tertawa. Seetelah
makan,. Ify, rio dan shilla memulai diskusinya,. Dan 1 jam kemudian diskusi
selesai, sebelum pulang, ify ngobrol2 dulu. “oh..ya yo, aku ada usul, bagaimana
kalo anggota diskusi kita ditambah 1?” tanya ify. “boleh fy, itu lebih baik,
tapi siapa ya kira2 yang mau jadi anggotya kelompok kita?” tanya rio. “kalo rio
dan shilla tidak keberatan, ify punya temen yang ingin bergabung dengan kita,
bagimana?” . “cowok apa cewek fy?” tanya shilla. “cowok!” . “nah, itu yang gue
cari! Kalo duel kan asik, jangan cuman kalian aja dong yang asik, dua kali dua
kali gue! HAHA” kata shilla sambil tertawa. “bagaimana yo, tidak keberatan?” .
“tidak fy!” . “kalo begitu, oke bbesok tunggu ditempat biasa, dan ify akan bawa
orangnya” . Siang itu rio dan
shilla sudah menunggu ditempat biasa dan tidak beberapa lama ify muncul bersama
seorang laki2. Waktu melihat laki2 itu, rio kontan kaget. “shill, itu kan si
cakka?” . “oiya yo, si cakka nyasar” . “halo cakka, ketemu lagi?” sapa shilla.
“shilla ya?” tanya cakka. “ya!” . “eh, ini rio kan?” . rio hanya mengangguk,
dengan senyum yang agak dingin. “loh kalian sudah pada kenal?” tanya ify heran.
“eh fy, siapa sih yang ngga kenal sama papa biapo seperti ini?” tanya shilla.
“buka kartu aja kamu shill!” . “memang benar loh! Kamu kan PlayBoy!” . “sudah,
sudah!” perintah rio. “belum yo, sebentar kka, asal inget aja ya, orang yang
ada disebelahmu, tidak usah dan tidak boleh diusik!” jelas shilla. “kenapa?”
tanya cakka. “dia kan punya rio :p” . “wah, selamat ya yo” kata cakka sambil
menjabat tangan rio. Diskusi
kuartet itu selalu dilaksanakan, tapi akhir2 ini keadaan rio lain, ia
sepertinya merasa tersaingi oleh cakka, malah dalam diskusi ia lebih sering
diam. “yo, buka suaranya? Biasanya kan tidak suka begini? Daritadi cakka terus
yang ngebalas!” kata ify lembut. Tapi kata2 itu dirasakan sangat menyakitkan,
padahal ify tidak bermaksud begitu. “aku pusing fy!” . “jadi?” . “kamu teruskan
saja, biar aku yang mendengarkannya!” . waktu itu rio hanya mendengarkan, dan
sekali2 dia mendengarkan pujian dari ify buat cakka. “ya bagus kka, terus?” .
hati rio tambah perih. sepulang
diskusi dirumah shilla, selama diperjalanan rio membisu, dan setelah caakka
turun dari mobil, bru ify membuka suara. “yo, masih pusing?” . “siapa yang
pusing? Tidak pusing kok!” jawab rio dingin. “tadi?” . “aku bohong fy!” .
“lantas, kamu kenapa?” . “aku cmburu fy!” kata rio tegas. “ya tuhaaan...yo,
buang rasa curigamu, dan kamu hrus percaya, aku mnecintai kamu! Jangan harap
laki2 lain dapat menyentuh hati aku!” kata ify pasti. “aku percaya kamu fy,
tapi si cakka itu dia seperti ingin menyaingiku dan mendapatkan kamu!” .
“yo” . “fy, aku lebih tahu dari kamu, dulu dia sahabatku, dia seorang PlayBoy!
Dan tadi dia waktu turun bicara manja sekali” . “tapi, walaupun begitu kamu
percaya sama aku kan?” tanya ify. Rio hanya mengangguk. Mlaam itu, adiknya rio datang
kerumah ify. “eh, acha..yu masuk! SENDIRIAN?” . “ya!” . “malam2 begini pukul
setengah 10 tidak takut cha?” . “eeeh, tidak! Ka ify, ka rio mana?” . “ka rio?
Ka rio tidak kesini cha!” . “tyadi diskusi?” . “ya, seperti biasa cha,
memangnya kenapa?” . “kata mama dan ka Exel, sejak pukul 4 sore kak rio belum
pulang” . “belomm pulang? Kan tadi pulangnya pukul 4 sore sama ka ify. Tidak
pamit sama mama?” . “kata mama, ka rio cuman bilang ‘ma..pergi’ mama kira mau
kerumah ka ify, sebelum berangkat, ka rio sembahyang ashar dulu” . “kemana ya?”
tanya ify cemas. “fy, ada siapa?”
. “eh, ada acaha tante” . “ada apa cha?” . “nu tanteee, ka rio gak ada!” katya
acah cemas. “biasanya pulang jam berapa?” . “biasanya magrib sudah ada dirumah
tante..!” . “dulu?” . “dulu sih malam, tapi kan sekarang ka rio sudah
baik!”
Langganan:
Postingan (Atom)




































